Minggu, 06 Mei 2012

Tujuan, Fungsi Dan Sifat Bimbingan Konseling Di Sekolah


A.   Tujuan Bimbingan dan Konseling diSekolah

Layanan Bimbingan dan Konseling merupakan upaya untuk membantu perkembangan pribadi seseorang secara optimal. Sesuai dengan pengertian bimbingan dan konseling yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka menurut W.S Winkal, tujuan pelayanan bimbingan dan konseling adalah supaya manusia mengatur hidupnya sendiri, menjamin perkembangan dirinya sendiri secara optimal, memikul tanggung jawab sepenuhnya atas arah hidupnya sendiri, menggunakan kebebasan sebagai manusia secara dewasa dengan pedoman pada cita-cita yang mewujudkan semua potensi yang baik padanya, dan menyelesaikan semua tugas yang dihadapinya dalam kehidupan ini secara memuaskan. Tujuan ini sangat luas, karena menjangkau seluruh medan hidup seseorang.
Tujuan pelayanan bimbingan dan konseling adalah supaya orang yang dilayani menjadi mampu mengatur hidupnya sendiri, memiliki pandangan sendiri dan tidak sekedar membebek pendapat orang lain, dan berani menanggung sendiri akibat dan konsekuensi dari tindakan-tindakannya.

PP No. 28 dan No. 29 tahun 1990 dan PP No. 72 tahun 1991 yang dikutip Prayetno pada dasarnya mengemukakan bahwa “binbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”. Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi dimaksudkan agar peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan dimaksudkan agar peserta didik mengenal secara objektif lingkungannya, baik lingkungan sosial ekonomi, lingkungan budaya yang sarat dengan nilai dan norma-norma lingkungan fisik, dan menerima berbagai kondisi lingkungan secara positif dan dinamis.
Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depan dirinya sendiri, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karir, maupun bidang budaya, keluarga dan masyarakat.
Sementara itu Dewa Ketut Sukardi membagi tujuan bimbingan dan konseling disekolah kedalam dua kategori yaitu:
1.   Tujuan Umum
Tujuan umum pelayanan bimbingan dan konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 2003 (UU No. 20/2003), yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman dan bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sementara tujuan umum dari bimbingan dan konseling adalah membantu klien agar ia memiliki pengetahuan tentang posisi dirinya dan memiliki keberanian mengambil keputusan untuk melaksanakan suatu perbuatan yang dipandang baik, benar dan bermanfaat untuk kehidupannya didunia dan kepentingan diakheratnya.
2.   Tujuan khusus
Dalam kurikulum SMA tahun 1975, sebagaimana yang dikutip oleh Soecipto dan Rafles Kosasi, dinyatakan bahwa tujuan bimbingan dan konseling disekolah untuk membantu siswa:
1.    Mengatasi kesulitan dalam belajarnya.
2.    Mengatasi terjadinya kebiasaan yang tidak baik, yang dilakukan pada saat peruses belajar mengajar.
3.    Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4.    Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan study.
5.    Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat.
6.    Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah social-emosional disekolah yang bersumber dari sikaf murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan lebih luas.
 Downing juga mengemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan dan konseling disekolah sebenarnya sama dengan pendidikan terhadap diri sendiri, yaitu  membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan social psikologis mereka, merealisasikan keinginannya, serta mengembangkan kemampuan atau potensinya.
Menurut Dewa ketut Sukardi bahwa secara khusus layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujua-tujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi sosial, belajar, dan karier. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif:

1) Dalam Aspek Tugas Perkembangan Pribadi-Sosial.
Dalam aspek tugas perkembangan pribadi-sosial, layanan bimbingan dan konseling membantu siswa agar;
a.     Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan yang ada pada dirinya.
b.    Dapat mengembangkan sikap positif, seperti mengambarkan orang-orang yang mereka  senangi.
c.     Membuat pilihan secara sehat.
d.    Mampumenghargai orang lain.
e.     Memiliki rasa tanggung jawab.
f.      Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi.
g.     Dapat menyelesaikan konflik.
h.    Dapat membuat keputusan secara efektif.

2)  Dalam Aspek Tugas Perkembangan Belajar.
Dalam aspek tugas perkembangan belajar, layanan bimbingan dan konselingmembantu siswa agar:
a.    Dapat melaksanakan keterampilanatau teknik belajar secara efektif.
b.     Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan.
c.      Mampu belajar secara efektif.
d.     Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi/ ujian.

3) Dalam Aspek Tugas Perkembangan Karier.
Dalam aspek tugas perkembangan karier, layanan bimbingan dan konseling membantu siswa agar:
a.     Membantu membentuk identitas karier, dengan cara menggali cirri-ciri pekerjaan di linkungan kerja.
b.    Mampu merencanakan masa depan.
c.     Dapat membentuk pola karier yaitu kecendrungan arah karier.
d.    Mengenal keterampilan, kemampuan, dan minat.
Maka dapat dipersentasikan bawa tujuan bimbingan dan konselingadalah untuk membantu indipidu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, setatus social ekonomi) sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.

B.     Fungsi Bimbingan Dan Konseling di Sekolah.

1. Funsi Pencegahan.
Pelayanan bimbingan dan penyuluhan dapat berfungsi pencegahan, yaitu funsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarny peserta didik dari permasalahan yabng mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugia-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Hal tersebut dapat di tempuh melalui program bimbingan yang sistematis sehingga hal-hal yang daptat menghambat seperti kesulitan belajar, kekurangan informasi masalah, social dan sebagainya dapat di hindari. Beberapakegiatan bimbingan yang dapat berfunsi pencegahan antara lain:
a.     Program orientasi yang memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih mengenal sekolah sebagai lingkungan yang baru. Dalam program ini dapat disampaikan berbagai informasiseperti; kurikulum, cara-cara belajar, fasilitas belajar, hubungan social, tatatertib sekolah, informasi pekerjaan dan sebagainya.
b.    Progran bimbingan karier,yang membantu para siswa untuk memperoleh pemahaman dari dan lingkungan yang lebih baik serta mengembangkannya kearah pencapaian karier yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan.
c.     Program pengumpulan data yang memungkinkan di perolehnya data yang lebih lengkap dan tepat yang amat di perlukan guna pemahaman pribadi siswa secara lebih mendalam.
d.    Program kegiatan kelompok, seperti diskusi, bermain pranan, dinamika kelompok danteknik-teknik pendekatan lainnya.

2. Fungsi Pemahaman.
Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.Kegiatan pemahaman tersebut meliputi:
a.     Pemahaman tentang peserta didik terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru, dan guru pembimbing.
b.    Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk di dalam lingkungan keluarga, dan sekolah), terutama oleh oran tua siswa, siswa sendiri, guru, dan guru pembimbing.
c.     Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk di dalam informasi pendidikan , jabatan, pekerjaan, dan informasi budaya)terutama oleh siswa.

3.   Fungsi Pengentasan.
Fungsi pengentasan,yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tetuntaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang di alami peserta didik. Disinilah fungsi pengentasan dan layanan bimbingan dan konseling di perlukan. Dalam hal ini bimbingan dan konseling berusaha untuk memecahkan masalah-masalah yang di hadapi siswa.

4.   Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan.
Fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik yang ada pada individu, baik hal itu merupakan pembawaan maupun hasil-hasilperkembangan yang telah di capai selama ini. Intlegensi yang tinggi, bakat yang istimewah, minat yang menonjol untuk hal-hal positif dan produktif, sikap dan kebiasaan yang telah terbina dalam bertindak dan bertingkah laku.sehari-hari, cita-cita yang tinggi dan cukup realistic, kesehatan dan kebugaran jasmani, hubungan sosial yang harmonis dan dinamis, dan berbagai aspek positif lainnya dari individu perlu diprtahankan dan dipelihara.


Bimbingan dan konseling dapat berfungsi sebagai pemeliharaan dan pengembangan artinya layanan yang di berikan dapat membantupara siswa dalam mengembangkan keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap, terpelihara dan terkrmbangnya berbagai potensi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, jika semua fungsi yang terdahulu telah terlaksana dengan baik dapatlah di katakana bahwa siswa yang bersangkutan mampu berkembang secara wajar terarah dan mantap menuju perwujudan dirinya secara optimal.

C. Sifat Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

Istilah sifat bimbingan dan konseling menunjuk pada tujuan yang ingin di capai dalam peleyanan bombingan dan konseling.
Berbagi tujuan pelayanan bimbingan dan konseling tersebut, sekaligus menunjukkan sifat-sifat bimbingan dan konseling.
1.   Bimbingan preventif atau bimbingan pencegahan.
Dalam dunia kesehata mental,”pencegahan” didefinisikan sebagai upaya memperngaruhidengan cara yang positif dan bijaksana, lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian benar-benar terjadi.
Bimbingan dan konseling di sekolah dikatakan bersifat freventif apabila tujuan utamanya adalah membekali peserta didik agar lebih siap menghadapi tantangan-tantangan yang akan datang dan mencegah timbulnya masalah yang serius dikemudian hari.

2.   Bimbingan Korektif (Bimbingan Penyembuhan).
Orang yang mengalami masalah dianggap berada dalam suatu keadaan yang tidak menyenangkan sehingga ia perlu dikeluarkan dari tempatnya itu.
Bimbingan dan konseling di sekolah dikatakan bersifat korektif apabila tujuan utamanya adalah membantu peserta didik dalam mengoreksi perkembangan yang mengalami salah jalur.

3.   Bimbingan perseveratif (Bimbingan developmental).
Bimbingan pemeliharaan (preservatif) berarti memelihara segala sesuatu yang baik yang ada pada diri individu, sedangkan bimbingan developmental (pengembangan) merupakan bimbingan kepada individu yang sudah baik agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya pada kegiatan yang lebih baik lagi.
Bimbingan dan konseling dikatakan bersifat perseveratif atau developmental apabila tujuan utamanya adalah mendampingi peserta didik supaya perkembangannya berlangsung seoptimal mungkin.

D.   Orientasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

Layanan dan bimbingan di sekolah perlu memiliki orientasi tertentu. Orientasi yang dimaksudkan adalah “pusat perhatian” atau “titik berat pandangan”. Berdasarkan pengertian , tujuan, serta fungsi bimbingan dan konseling terdahulu, maka dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada:

1.   Orientasi individual.
Pada hakikatnya setiap individu itu mempunyai perbedaan satu dengan yang lain. Menurut Willerman bahwa anak kembar satu telurpun juga mempunyai perbedaan, apalagi dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa kondisi lingkungan dapat memberikan andil terjadinya perbedaan individu.
 Perbedaan latar belakang kehidupan individu ini dapat memperngaruhi pola berfikir, cara berperasaan, dan cara menganalisis masalah. Orientasi perseorangan dalam bimbingan konseling menghendaki agar konselor menitik beratkan pandangan pada siswa secara individual. Pemahaman konselor yang baik terhadap keseluruhan siswa sebagai kelompok dalam kelas itu penting juga, tetapi arah pelayanan dan bimbingan ditujukan kepada masing-masing siswa.

2.   Orientasi Perkembangan.
Perkembangan individu secara tradisional dari dulu sampai sekarang menjadi inti dan pelayanan bimbingan. Setiap tahap atau periode perkembangan mempunyai tugas-tugas perkembangan sendiri yang sudah harus dicapai pada akhir tahap perkembangannya itu. Pencapaian tugas disuatu tahap perkembangan akan memperngaruhi perkembangan berikutnya.
Tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst yang dikutip oleh Hurlock antara lain adalah sebagai berikut:
a)   Mampu mengadakan hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan.
b)  Dapat berperan sosial, baik sebagai laki-laki ataupun perempuan.
c)   Menerima keadaan fisik serta mampu memanfaatkan kondisi fisiknya dengan baik.
d)  Mampu menerima tanggung jawab sosial dan bertingkah laku sesuai dengan tanggung jawab sosial.
e)   Tidak tergantung secara emosional pada orang tua atau orang dewasa lainnya.
f)    Menyiapkan diri terhadap karier dan ekonomi.
g)   Menyiapkan diri terhadap perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
h)  Memperoleh nilai-nilai system etis sebagai pedoman dalam bertingkah laku serta dapat mengembangkan suatu ideology.
Pencapaian atau perwujudan tugas-tugas perkembangan setiap tahap atau periode merupakan suatu tolak ukur dalam mendeteksi masalah-masalah yang dihadapi klien. Permasalahan yang dihadapi individu harus diartikan sebagai terhalangnya perkembangan, dan hal itu semua mendorong konselor dank lien berkerja sama untuk menghilangkan penghalang itu serta mempengaruhi  berjalannya perkembangan klien.

3.   Orientasi Masalah
Konselor hendaknya tidak terperangkap dalam masalah-masalah lain yang tidak dikeluhkan oleh klien. Hal ini disebut dengan asaskekinian. Artinya pembahasan masalah di fokuskan pada pembahasan masalah saat ini (saat berkonsultasi) dirasakan oleh klien.
Bilamana klien menyampaikan informasi atau berbicara tentang masalah yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang sedang dikonsultasikan, maka konselor harus membawanya kembali pada masalah yang sedang dihadapinya. Jangan sampai konselor hanyut dalam pembicaraan klien yang menyimpang dari tujuan pemecahan masalah. Oleh karena itu, konselor harus arif dan bijaksana menanggapi pembicaraan klien, serta konselor harus selalu sadar akan arah sasaran yang akan dituju untuk memecahkan masalah klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar